Berikut ini merupakan tulisan yang saya kutip dari majalah Female tahun 2006. Bahasannya cukup menarik karena menceritakan bagaimana seorang cewek dan seorang cowok memandang sebuah cinta, mungkin sudut pandang ini berbeda dari yang kita fikirkan dan dengan ini semoga dapat menambah wawasan kita mengenai cinta.. First, kita lihat tulisan dari cowok.
"Saya adalah seorang penggemar film. Setiap minggu saya selalu menyempatkan diri untuk menonton bioskop atau DVD. Inilah yang mungkin mendasari sikap pesimis saya akan cinta. Coba saja Anda bayangkan dalam film - film romantis betapa semua hal itu mungkin. Ada tokoh yang rela meninggalkan tunangannya yang miliuner cuma demi seorang pria biasa. Ada juga yang rela menyebrangi sebuah pulau, lautan yang luas, dan mengarungi bahaya demi menyelamatkan wanita yang ia cintai. Salah satu film kesukaan saya bahkan menceritakan bagaimana seorang pria rela menikah dengan wanita yang harus mengalami hilang ingatan setiap harinya hanya karena cinta. Romantis memang, tapi apakah ini nyata?
Kisah percintaan saya dalam hidup nyata tidak pernah memiliki akhir yang bahagia. pada waktu SMA saya tidak pernah memiliki pacar karena semua gadis ingin berpacaran dengan pria yang tampan, jago main basket, dan memiliki mobil. Bahkan, beberapa pria yang memiliki semua kriteria diatas bisa memiliki tiga pacar pada saat yang bersamaan. Apakah gadis - gadis ini melakukannya karena cinta? tentu tidak, melainkan karena logika. Pria ini bisa mengajak mereka jalan - jalan, memberikan hadiah, dan mengantar mereka pulang. inilah yang memberikan kebahagiaan dan kebanggaan yang melebihi cinta.
Saat kuliah, saya menyibukan diri dengan berbagai kegiatan mahasiswa. Saya bisa mengatakan dengan bangga bahwa saya cukup berhasil dan dikenal orang. Saat itu, ada seorang wanita yang mendekati saya. Akhirnya, kami berpacaran. Saya yakin bahwa saya mencintainya dan kelak akan menikahinya. Akan tetapi tahun terakhir kuliah, ia tiba - tiba dijodohkan orang tuanya dengan seorang pria pengusaha dari Surabaya. Konon katanya pria ini sudah berumur, tapi memiliki kekayaan dimana - mana. Bila ini film Holywood, mungkin saya akan berjuang untuk meraih cintanya dan kami akan melarikan diri berdua dan hidup bahagia selamanya. Tapi, di dunia nyata, kekasih saya menikah dengan pria tua... karena logika bahwa ia kaya!
Sekarang, saya sudah bekerja. Sejak tragedi cinnta hilang itu, saya melarikan diri dari kenyataan dengan berbagai kesibukan. entah mengapa, saya seakan dibangunkan dengan kenyataan bahwa seorang pria harus memiliki nilai jual lebih untuk bisa mendapatkan seorang wanita pendamping hidupnya kelaj. Hasil kerja keras saya terbayar saat saya bisa membeli rumah, mobil, dan menduduki posisi penting di perusahaan tempat saya bekerja. Saya kini berada dalam posisi yang diinginkan, wanita mana yang akan menolak saya sekarang? Akan tetapi, saya lebih memilih untuk mengikuti logika dan tidak mencari cinta. Saya menikahi seorang wanita dari daerah saya yang dipilihkan oleh ibu saya. alasannya? Sederhana saja... ia cantik, sopan, baik, dan ia adalah calon istri dan ibu ideal. Memang, ia tidak berpendidikan tinggi, tapi setidaknya ia bisa mengurus keluarga dan menyayangi ibu saya dengan baik. Kami berkenalan selama satu minggu sebelum akhirnya kami menikah. Kini, kami memiliki dua anak yang sangat lucu dan dengan bangga saya mengatakan bahwa saya mencintai istri dan anak - anak saya. Ternyata, rasa cinta bisa tumbuh dengan sendirinya asalkan kita selalu siap melakukan "negosiasi - negosiasi" dalam hubungan kita." -Sandy Gideon- *cinta adalah utopia. Logika bisa mempertahankan segalanya*
Sekarang kita lihat bagaimana cewek memandang sebuah cinta..
"Salah satu hal tersulit yang harus dilakukan manusia adalah memulai dan mempertahankan sebuah hubungan. Memang benar, pada awalnya kita menemukan pasangan untuk memulai hubungan itu. Mencari pasangan yang sepadan dan bisa memenuhi dunia memang sulit. Saya pernah bertanya pada orang tua saya mengenai harapan mereka akan calon pendamping saya kelak. Dengan jelas mereka menyatakan bahwa calon suami saya haruslah orang Batak, Kristen, dan mapan. Bisakah Anda membayangkan kesulitan yang harus saya alami? Sudah cukup sulit mencari pria Batak di lingkungan saya. Belum lagi ditambah syarat bahwa ia juga harus beragama Kristen dan mapan.
Saya pribadi sudah dua kali memiliki kekasih, walaupun mereka harus saya sembunyikan dari orang tua. Keduanya pasti memenuhi dua kriteria... entah Batak, Kristen, tapi tidak mapan, atau Kristen, mapan, tapi bukan Batak. Saya merasa lelah dengan beban ini. Akhirnya, saya memutuskan untuk mengikuti perasaan saya. Salah satu kisah cinta terbesar dalam hidup saya adalah saat saya jatuh cinta dengan seorang pria yang tidak memenuhi satupun kriteria orang tua saya (bukan Batak, bukan Kristen dan tidak mapan). Saat ini, saya benar - benar jatuh cinta walaupun saya tidak tahu ini adalah cinta yang tidak mungkin terwujud. Bahkan, setelah saya berpacaran, perasaan cinta pada pria yang "salah" ini masih tetap ada. inilah titik ketika saya memutuskan bahwa cinta memang nyata dan cinta lebih penting dari segala kriteria dunia.
Saya memang tidak pernah berpacaran dengan pria yang "salah" ini, tapi saya tidak bisa berhenti mencintainya. Saya berusaha dengan keras namun perasaan ini tidak mudah goyah. Sampai akhirnya, baru - baru ini saya menemukan sosok pria baru yang mencuri hati saya. Kami sudah berteman selama beberapa tahun, tapi entah mengapa perasaan itu muncul begitu saja. Saya yakin bahwa saya jatuh cinta karena lama - kelamaan saya sudah bisa melupakan pria "salah". Yang paling hebat dari cerita ini adalah fakta bahwa ia Batak,Kristen, dan sangat mapan. Walaupun demikian, saya selalu menganggap hal ini sebagai suatu kebetulan yang menyenangkan karena saya yakin akan tetap memilihnya bagaimanapun juga keadaannya.
Saya tidak pernah menyesal mendahulukan cinta dibandingkan logika. Bagi saya, cinta adalah sebuah perasaan murni dari dalam hati yang tidak bisa diciptakan begitu saja. Sedangkan logika dunia adalah sesuatu yang masih bisa dinego dan sifatnya relatif. Sebuah hubungan yang didasarkan pada cinta pasti bisa bertahan karena ada satu pengikat yang tak akan tergoyahkan. Contoh saja saya yang memilih pria yang saya cintai!" -Maria Grissella- *percaya pada kekuatan cinta*
Interesting isn`t?!! memang tulisan ini tidak bisa serta merta kita generalisir lalu mengatakan semua cowok atau semua cewek akan memiliki pandangan yang sama dengan yang tersebut di atas. Tapi setidaknya tulisan ini bisa membuka wawasan bahwa pada realitanya setiap orang memiliki pandangannya masing - masing tentang cinta.. dan akhirnya.. saya sendiri tidak mau menyimpulkan apa - apa dari tulisan di atas.. Tugas Anda yang menyimpulkan cinta untuk diri Anda sendiri.. selamat menyimpulkan.. :)